Kepala BRIN: Tenaga Nuklir Sebagai Salah Satu Alternatif Utama Solusi EBT

Media Indonesia – Solo

UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan PT ThorCon Power Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Nuklir Sebagai Solusi Energi Ramah Lingkungan di UNS Inn, Surakarta. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) L.T. Handoko secara daring, serta para Guru Besar, Akademisi dan Mahasiswa UNS yang hadir secara luring.

Kepala BRIN mengatakan seminar nasional ini merupakan inisiatif yang sangat baik dari UNS karena terkait dengan bagaimana bisa mendorong tenaga nuklir sebagai salah satu alternatif utama solusi dari energi baru dan terbarukan bagi negara kita di masa mendatang. “Kami saat ini sedang bekerja sama dengan PT ThorCon Power Indonesia untuk membangun PLTN eksperimental. PLTN eksperimental yang diinisiasi oleh ThorCon yaitu menggunakan teknologi Molten Salt Reactor (MSR) yang merupakan salah satu teknologi alternatif di masa depan yang harapannya dapat lebih memberikan jaminan keselamatan dan kesinambungan bagi operasional PLTN,” kata L.T. Handoko. UNS bekerja sama dengan PT ThorCon Power Indonesia sebelumnya telah menyelesaikan Kajian Ilmiah bertajuk “Nuklir Sebagai Solusi dari Energi Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan untuk Mengejar Indonesia Sejahtera dan Rendah Karbon pada Tahun 2050”. Serta Survei Penerimaan Masyarakat terhadap Pembangunan PLTN di Bangka Belitung yang juga melibatkan UBB dengan hasil sebesar 73,73%. Angka ini menunujukkan respon positif pada masyarakat di atas standar penerimaan ALA (acceptable Level of Acceptance) yang dikaji berada pada presentase antara 51,5% sampai 63%. Para Guru Besar dari berbagai fakultas di UNS yang menghadiri acara Seminar Nasional tersebut sepakat kajian ini merupakan kajian yang obyektif, komprehensif dan dapat dipercaya karena telah dikerjakan oleh berbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu. Sangat disayangkan apabila dokumen ini tidak disosialisasikan untuk menjadi dasar pertimbangan agar pemerintah tidak ragu-ragu lagi memasukan nuklir ke dalam sistem energi nasional.

UNS merupakan universitas pertama yang mengungkap fakta sesungguhnya terkait nuklir yang memang selama ini terdapat misinformasi serta disinformasi yang berkembang di masyarakat. Melalui Kajian Ilmiah tersebut menyimpulkan bahwa PLTN adalah pembangkit listrik yang ramah lingkungan, andal, dan berkelanjutan. Nuklir sebagai energi baru, perlu dipertimbangkan secara serius oleh pemerintah sebagai pemenuhan janji Indonesia mendapatkan lingkungan bebas emisi karbon.

Kajian ini juga menyimpulkan bahwa hampir tidak mungkin tercapainya target COP 21 tanpa nuklir di Indonesia. Energi nuklir dikatakan energi ramah lingkungan karena bebas emisi gas rumah kaca, footprint relatif kecil, tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, serta limbahnya terkelola, terkontrol dengan aturan yang jelas, dan bersifat andal karena dapat mencapai kapasitas maksimum, beroperasi 24 jam tanpa sela. “Atas nama pimpinan UNS, saya sangat mengapresiasi atas kerja sama antara UNS dengan PT ThorCon Power Indonesia dalam menyusun Kajian Ilmiah ini. Semoga kerja sama ini membawa manfaat bagi nusa, bangsa dan negara kita,” ucap Rektor UNS Prof. Dr. Jamal Wiwoho. Lebih lanjut, di akhir seminar nasional ini dilakukan survei singkat kepada seluruh peserta seminar dari berbagai bidang mulai dari Pegawai Negeri, Akademisi, serta Mahasiswa maupun pelajar yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Yang mana dari 261 koresponden menyatakan 51,7% setuju nuklir merupakan solusi praktis transisi energi yang dapat menggantikan batu bara. “Semoga melalui acara ini, penyebaran informasi terkait fakta bahwa nuklir merupakan energi yang aman, ramah lingkungan, efisien, dan juga reliable (andal) dapat terus dilakukan. Sehingga pemerintah tidak lagi ragu-ragu dan dapat segera memutuskan agar nuklir dapat masuk lebih awal dalam bauran energi Indonesia, karena nuklir merupakan solusi praktis dan juga murah dari transisi energi yang dapat menjawab arahan dari Presiden Indonesia Joko Widodo. Transisi energi tidak boleh menggunakan APBN dan memberatkan masyarakat dengan naiknya tarif dasar listrik,” ucap Direktur Operasi PT ThorCon Power Indonesia Bob S. Effendi.(RO/OL-5)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.